Mematuhi Suami = Mendidik Anak

Published Desember 2, 2012 by karinamumtaz

Saat itu,

Gambar

Alia memanjat antara palang dan pintu.

Saya, ibunya, tidak melarangnya melakukan itu di rumah, tapi suatu saat ayahnya melihatnya dan dengan serta merta melarangnya melakukan hal tersebut karena khawatir dan dinilai tidak pantas apalagi oleh anak perempuan :D

Saat ayahnya melarangnya, Alia kontan menengok ke arahku mengisyaratkan permohonan dukungan dan berkata “nggak apa-apa ko, mami ngebolehin”, ayahnya melarangnya sekali lagi dan segera saya berkata “Al, betul kata papah, hayok turun yuk..” Alia berkata lagi “tapi mami kan ngebolehin kan?”,  saya berkata lagi “iya, tapi papah bilang itu bahaya dan papah betul, mami sih nurut dan ikut sama papah” lalu segeralah Alia turun dari atas.

Selanjutnya, kontradiksi antara suami dan istri dalam hal ini dapat diselesaikan di belakang layar tanpa menimbulkan kebingungan pada anak  :D

Jadi ingat kisah istri dan anak nabi Ibrohim a.s ..

﴾ Ibrahim:37 ﴿
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

﴾ Ash Shaaffat:102 ﴿
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Seorang anak yang patuh pada bapaknya, pasti hasil didikan seorang ibu yang patuh terhadap suaminya.

ah.. jadi inget kisah istri dan anak nabi Nuh a.s ..

﴾ At Tahriim:10 ﴿
Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)”

﴾ Huud:45 ﴿
Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.

﴾ Huud:46 ﴿
Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”.

Mungkinkah, anaknya yg durhaka itu didikan seorang ibu yang tidak patuh pada suaminya??

Wallahu a’lam.

Berlatih Berdagang, Mengenal Enterpreneurship

Repost
Published November 28, 2012 by karinamumtaz

Alia (7) memang hidup dalam keluarga pedagang, ayahnya seorang pengusaha dan ibunya seorang pedagang, jadi mungkin memang tidak sulit mengarahkannya pada pengenalan enterpreneurship.

Dengan keinginannya sendiri, Alia memulainya dengan menjual bros-bros rajutan handmade buatan tetangga dan menjualnya di sekolahnya, Alhamdulillah sekolahnya-pun mendukung, guru-gurunya di kelas membimbing Alia bagaimana cara dan etika berjualan di sekolah pada teman-temannya tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.

Gambar

Laris manis dengan bros-brosnya, lalu kami pergi ke toko tempat menjual alat-alat membuat aksesoris dan membeli beberapa tools untuk membuat sendiri jepit-jepit rambut untuk dijual.

Gambar

Mulailah kami membuat jepit-jepit itu bersama-sama.

Gambar

Alhamdulillah cukup laris, not so bad for the beginner :D

Gambar

Ketika ditanya, mau diapakan uang yang diperolehnya, Alia menjawab : “aku mau beli sajadah baru” Lho? udah cukup ya buat beli sajadah? cukup dong kalo modal plus laba disatuin hihihihi…

Dari hasil yang diperolehnya, kamipun mengajarkannya agar menyisihkan 20% darinya untuk disedekahkan, Alia memutuskan untuk menyedekahkannya pada anak2 di Ghaza Palestina lewat rekening Medical Emergency Rescue.

Namanya juga belajar ya Aaal, next kita belajar memisahkan modal dan laba, i’m so proud of you Alia.. MaasyaAllah, Alhamdulillah.

Games Kelereng Sederhana

Gambar

Hey… kita menemukan sebuah kelereng!

Find a hole on our table and… perfect!

Siapa yang point memasukkan kelereng 3X saja, dapat mengambil hadiah undiannya, es krim coklat, minuman susu coklat atau telur mata sapi, kami juga menambahkan hadiah lain seperti air putih, digendong atau dipijti…hehe…..

Dimana Harus Belajar?

Gambar

Dunia tak selebar daun kelor, jendral!

Belajar nggak mesti di dalam “kotak” segiempat yang disebut ruang kelas. Di jalan sambil jalan-jalan pagi bisa belajar menglasifikasikan warna-warna bunga, belajar membiasakan diri menjaga lingkungan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Gambar

Atau, di taman dekat danau bisa belajar bersyukur dan belajar memaknai kebahagian, bahwa bahagia itu bisa diraih hanya dengan hal-hal sederhana.

Gambar

Atau hanya di halaman rumah, belajar menyapu 😛

Lalu, apa itu sebenarnya makna “belajar” sesungguhya?

Bullying At School

Bullying itu wajar-wajar aja dan hampir terjadi dimananpun, kalangan apapun dan usia berapapun. Anak-anak harus dibiarkan “belajar” menghadapinya. Benarkah?

Bullying itu pendzaliman! kezhaliman adalah sesuatu yang tidak wajar, bila kita menganggapnya wajar bahkan dianggap sebagai pembelajaran buat orang lain, apa nggak ada cara laen yang lebih baek?

I say no to bullying! no matter how small the act is, still its a big deal.

on the other hand, anak-anak memang harus diberi pengajaran untuk bertahan bahkan atau melawan terhadap perlakuan bullying ini.

Suatu hari anakku, Alia mengalami bullying dalam bentuk verbal dari beberapa teman perempuannya di sekolah lalu dia memutuskan untuk homeschool. Kami berbincang2 mengenai hal ini dan tentunya sebagai orangtua, beberapa tips terlontar,

diantaranya :

–  Speak up

Katakan bahwa kita tidak suka diperlakukan seperti itu, atau katakan pada guru atau orangtua atau seseorang yang lebih tua bahwa kita perlu pertolongan,

– Stay away

Jauhi orang2 itu,

– Fight Back

Terkadang, membalas serangan orang untuk membuat mereka berhenti melakukan kezhaliman, dibutuhkan.

Di tengah obrolan kami, Alia mengingatkanku tentang sebuah kisah yang dulu pernah kuceritakan tentang salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar R.A, (you can search the full story by urself :D) yang saat dimaki oleh seseorang beliau diam dan malaikat mengembalikan makian itu pada si orang yang memaki dan ketika Abu Bakar R.A membalas makian lalu duduklah setan dan pergilah malaikat, Dan Alia melanjutkan”ya aku lakuin itu”…………….. dan………. hening………. thats it, no more words, i just hug her and told her that i always proud of her.