Matematika Dalam Cheese Cake Untuk Bule

Bismillah….

Senin kemarin ada kunjungan bule-bule (buk lik yooo huehehehe..) dari Jawa ke rumah kami.

Dek Karin memutuskan membuat sesuatu yang istimewa untuk menyambut mereka, yaitu membuat cheese cake.

Image

Pelajaran kali ini adalah seperti biasa, motorik halus menumbuk biskuit, menakar bahan (math), mengocok krim (motorik halus dan kasar), mengira-ngira (memperkirakan) suhu (logika), menghitung jumlah gelas untuk diisi bahan (math), menghitung jumlah strawbery yang diperlukan (math) dan setelah semuanya, pelajaran dan pekerjaan yang tidak akan tersia-siakan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala.. adalah menghormati tamu lewat sajian cheese cake buatan sendiri, menanamkan kasih sayang serta kebahagiaan pada diri sendiri dan orang lain.. Begitulah  matematika menghantarkan kami pada makna kehidupan yang lebih baik.

Flash Cards Yang Tidak Diperlakukan Sebagai Flash cards (2)

Bismillah….

Flash cards lazimnya digunakan dengan cara menunjukkan pada anak dengan tempo agar anak hafal teks di dalamnya. Tapi ada salah satu cara kami memperlakukan flash card dengan lebih narsis lagi heuheu…. menjadikan mereka jemuran di jendela.

Image

Kapanpun anak dapat melihatnya, menyentuhnya, melafalkannya, menghafalnya dan mempelajarinya.. yang paling menyenangkan adalah dia dapat melakukan itu sesuka hatinya 😀

Tips Agar Anak Mau Mengerjakan “PR Yang Sebenarnya”

Bismillah…..

Beginilah Pekerjaan Rumah (PR) anak-anak yang sebenarnya yang harus dilatih di rumah,

Image

Kami ada ART di rumah, libur saat hari minggu yang kami jadikan hari tersebut sebagai hari belajar life-skill alias keterampilan beberes rumah 😀

Begini cara kami agar anak-anak bersedia “mempelajari life-skill” ini :

– Menjelaskan situasi rumah bila tanpa ada ART yang membantu,

– Membuat kesepakatan tentang pekerjaan apa yang akan mereka perbantukan. Sebisa mungkin hindari menentukan suatu pekerjaan bagi anak, beri anak-anak kebebasan untuk memilih pekerjaannya agar mereka merasa dihargai dan didengar pendapatnya juga merasa dibutuhkan,

– Persiapkan peralatan seefisien, semudah dan seaman mungkin buat anak-anak,

– Konsisten dalam kesepakatan dalam hal waktu pengerjaan dan konsekuensi bila melanggar kesepakatan,

– Biarkan mereka mengerjakan pekerjaannya tanpa kritik dan saran yang mengganggu, puji dan hargai pekerjaan mereka seberapapun usahanya,

–  Jangan lupa berterimakasih pada anak-anak atas bantuan yang mereka berikan.

Bila di awal saat menjelaskan situasi tanpa ART belum berhasil meyakinkan mereka untuk mau membantu alias ogah bantuin, biasanya saya sih tetap mengerjakannya sendiri dan dengan terpaksa harus mengabaikan permintaan dan keperluan mereka pada saya dalam banyak hal di saat saya sedang mengerjakan tugas rumah dan hingga selesainya karena kelelahan (menunjukkan akibat dari sebab). Tujuannya supaya anak melihat bahwa ini memang benar-benar tugas penting yang harus dikerjakan. Diharapkan dengan begitu, selanjutnya anak memahami bahwa pekerjaan rumah adalah tanggungjawab bersama.

Dalam PR yang sebenarnya inilah kami belajar bekerjasama, belajar manajemen waktu, belajar bertanggungjawab, belajar berempati, belajar etos kerja, belajar mengolah raga dan rasa,  belum lagi manfaat lain yang khusus  di dalam kategori pekerjaan yang dilakukan masing-masing.

PR itu bukan berjam-jam ngadepin pertanyaan-pertanyaan di kertas yang udah ada jawabannya, PR itu mencuci piring, mengepel, menyapu, laundry, mengelap perabotan, merapikan barang-barang di rumah, mencabut rumput di halaman, menyetrika, dlsb.. PR itu PEKERJAAN RUUUMAH.