Punya Karya Buku Cerita (atau apapun) di Usia 4 tahun, Caranya?

Bismillah…

Pekan lalu dek Karin (4th 8bln) telah menulis sebuah buku cerita sebanyak 10 halaman hanya dalam waktu kurang dari 2 jam saja, bahkan saya sendiri ragu mungkin waktunya lebih cepat dari itu, MasyaAllah, karena terus terang saya memperhatikan dek Karin hanya asyik bermain dengan kakaknya, tidak menyangka bahwa dia sedang membuat buku cerita.

Gambar

Demikian adalah cover buku ceritanya.

Jangan dibayangkan dek Karin telah pandai membaca dan menulis sehingga mampu membuat buku cerita, bahkan dia belum dapat menghafal huruf alphabet seluruhnya, menulisnya pun kadang terbalik-balik.

Lalu?…. sederhana saja, dia menggambarkan ilustrasi lalu setelahnya dia tunjukkan pada saya dan  mendeskripsikan dengan bahasanya apa yang telah dia gambar.

Tulisan di cover itu? dia meminta bantuan kakaknya untuk menyebutkan huruf apa saja bila dia ingin menuliskan “Piknik” dan dia menuliskannya sendiri karena kebetulan huruf-huruf tersebut sudah dikenalnya.

Gambar

Setelah dek Karin menceritakan halaman per halaman cerita yang digambarnya, saya mulai menyalinnya dengan membubuhi text dan sedikit edit pada kalimat tanpa merubah makna.

Tokoh, tema, alur, sudut pandang, gaya bahasa dan maksud/amanat pada cerita dalam 10 halaman, jelas dan runut.

Sejauh yang saya pikirkan tentang apa yang  sudah saya lakukan hingga saat ini adalah… saya “tidak banyak melakukan apapun” terhadapnya…hanya saja Karina adalah anak 4 tahun yang bahagia…… dan pekerjaannya hanyalah bermain, bermain dan bermain… baginya, membuat buku cerita mungkin adalah salah satu permainan yang disukainya.

play

Advertisements

Schooling The Downtown

Bismillah…

Gambar

Gambar

Bandingkan 2 foto ini, yang satunya anak2 desa yang “dipaksa” pergi ke sekolah yang katanya untuk memperbaiki taraf hidup, dengan foto yang lainnya sebuah jembatan karya anak2 Badui yg tidak sekolah…

Anak2 Badui yang dididik dengan “kurikulum” komunitas lokalnya lebih mampu menyelesaikan masalah desanya daripada anak2 desa yang dididik dgn “kurikulum” yang sama rata ala persekolahan umum, yang ujung2nya menjadikan mereka menjadi urban, pindah ke kota-kota lalu kembali ke desanya tanpa tahu bagaimana menyelesaikan problematika desanya sendiri seraya menadahkan tangannya meminta uluran bantuan pemerintah.

Setiap anak itu unik, setiap keluarga itu unik, setiap komunitas itu unik… pendidikan yang tepat bagi tiap-tiapnya, unik pula.

Sila disimak video berikut yang menambah wawasan berpikir kita tentang persekolahan,

Emergent Curriculum (Homeschool)

Bismillah….

Pendidikan adalah bagian dari perjalanan hidup terlebih lagi bagi kami pelaku homeschooling atau home education. Setiap kejadian dalam hidup dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran, istilahnya emergent curriculum.

Contohnya, jalan2 keliling kota, banyak hal bisa dipelajari.. belajar aturan dan tata tertib lalu lintas, menghafal al qur’an di jalan, berdendang menyanyikan lagu2 karangan dadakan sendiri, bertemu dan melihat banyak profesi, adab bertransaksi saat membeli bensin, saat belanja sayur. Sepanjang jalan berkomunikasi.

Atau, saya pada status Facebook saya di tanggal 20 Januari

Home-education hari ini…..

Tempat belajar : jalanan.

Guru : seorang penjual kerupuk yang buta, sekelompok orang yg rela kehujanan demi menampung donasi utk korban banjir.

Mata pelajaran : empati dalam kehidupan.

Atau,  kematian Ariel Sharon kemarinpun membuat kami belajar sejarah, geografi, bahasa dan agama sekaligus.

Atau,  hari kemarin saya mengalami musibah keguguran dan anak-anak lalu dapat mempelajari embriologi, biologi dan agama sekaligus.

Suatu hari kaka Al melihat saya membereskan barang-barang yang berserakan dan dia berkata “mami katanya nggak boleh kecapekan, udah biarin aja ntar aku yang beresin”.

Suatu saat jam sepuluh malam, adek Karin merasa lapar dan minta makan lalu dia bilang “aku makan sendiri aja biar mami nggak kecapekan”. Kutengok banyak remahan bekas makan adek Karin dan dia bilang “aku aja yang sapuin” sambil bergegas mengambil sapu dan pengkinya.

Anak-anak belajar nilai-nilai termasuk empati dari kehidupan nyata, bukan dari buku teks dan lembar kerja semata.

Bukankah tujuan pendidikan itu pada hakikatnya adalah untuk menjadikan dunia menjadi lebih baik?